Sophie Rickmers, 94 tahun, sebuah kapal mesin uap buatan Jerman 1920 yg karam di perairan Sabang, Aceh, pada Perang Dunia II. Kapal karam ini merupakan rumah bagi ikan-ikan cantik dan terumbu karang yg cantik luar biasa. Pemko Sabang sudah menyurati Bu Susi Pudjiastuti, Menteri Kelautan dan Perikanan untuk mengangkat kapal ini. Rencananya akan dibuat bunker minyak raksasa. Tapi andai kata kapal karam ini diangkat, habitat makhluk hidup akan rusak dan keindahan bawah laut Sabang akan hilang. Mari kita dukung supaya Kapal Karam Sophie gak diangkat dengan cara menandatangani kain putih di Blang Padang. #SaveSophie – at Blang Padang Jogging Track

View on Path

Travelling Dadakan

16 Agustus 2014 adalah hari yang udah aku tunggu-tunggu sejak akhir tahun 2013 lalu. Mau tau ada apa di tanggal itu? Itu adalah hari dimana sejarah baru akan terukir didalam perjalanan hidup seorang Fadil.

Di hari itu aku dan kawan-kawan bakal berangkat jauh dari pulau Sumatera menuju pulau seberang yang gak jauh dari kepulauan Indonesia juga. Pasti tau donk dimana? Yups! Kamu hampir benar! Kami gak bakal menuju ke Timor Leste atau Papua Nugini! Tapi kami bakal Tour keliling Asia Tenggara, wak!

Berawal dari Solo Backpacing Reza Fahmi, one of my friend in my bicycle club, dia merasa FREE kali dan kemudian dia ngajak kami untuk melakukan hal yang sama. Berawal dari kompaknya kami sewaktu bergabung di klub sepeda, membuat kami kompak akan segala hal yang kami lakukan. Secara gak langsung, kami punya darah yang sama, yakni darah “T”. Do you know what does it mean, dude? I guess you are never ever hearing that term, aren’t you? “T” is mean “Travelling”.

Sejak pertama kali aku ke luar negeri (Pattaya, Thailand) tepat di awal Januari 2014, aku mulai ketagihan untuk jalan-jalan. Apalagi kalo jalan-jalannya gratis wak (ngarep.com). Melihat dunia lain dengan budaya dan kebiasaan yang berbeda adalah hal yang sangat menarik untuk aku ketahui.

Karena menurut aku, semakin sering dan semakin banyak tempat di dunia ini yang kita kunjungi, kita akan semakin ngerti gimana caranya saling menghargai.

Sedikit flashback ni ya, awal Januari 2014 aku dan Agung dan kawan Agung dari negeri Kangguru dan sekarang juga udah jadi kawan aku, Linda namanya, Linda D’Cunda lebih lengkapnya. Ia wanita yang baik, ramah dan sopan. Meskipun kita berbeda agama tapi ia sangat menghargai apa yang aku yakini. Aku gak pernah nyangka aku bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan gratis.

Jadi waktu  itu, aku dengar-dengar kabar kalo Agung akan jalan-jalan ke Thailand dan Linda yang akan membiayai semuanya. Sebelumnya Agung juga pernah jalan-jalan ke Australia, dan itu juga Linda yang membiayai semua perjalanan Agung. Mendengar kabar kalo Agung akan jalan-jalan ke luar negeri untuk kedua kalinya, didalam hati aku juga berkata kalo aku juga pengen jalan-jalan seperti dia. Tapi apa daya, uang pun tak punya, aku anggap itu hanya mimpi belaka. Perih.

Tapi seiring berjalan nya waktu ternyata aku bisa kumpulin sedikit uang jajan ku. Tapi sayang, uang itu bakal aku pakai untuk ngecat Vespa butut kesayangan aku, bukan untuk jalan-jalan seperti yang akan Agung jalani.

20130823_155157

Vespa kesayangan aku waktu masih butut

Agung tau kalo aku udah punya sedikit uang dan ia coba merayu ku untuk ikut dengannya jalan-jalan ke Pattaya, Thailand. Aku cuma bisa terenyuh, mana cukup uang Rp. 1 Juta aku untuk jalan-jalan kesana. Melihat respon ku yang sedikit sedih, Agung coba menenangkan aku. Dia bilang dia bakal coba minta Linda untuk ngajak aku juga liburan dengan mereka. Sontak aja aku langsung menyanggahnya. “Gak lah wak, gak enak awak sama Linda, kenal aja sekedar gtu, gak dekat”. Agung menjawab, “Selow kah lek, biar awak yang olah nyan”. Lantas aku diam aja dan Agung pun pergi.

Seminggu kemudian Agung memberi kabar kalo ia udah bicara kepada Linda dan Linda pun setuju untuk ngajak aku jalan-jalan ke Thailand bersama mereka. Bukannya senang, tapi aku malah dilema. Mungkin buat Linda biaya untuk perjalanan aku nanti gak seberapa, tapi bukan itu yang aku pikirin, aku merasa gak enak dengan tawarannya itu. Apalagi kalo orang tua aku sampai tau kalo aku bakal jalan-jalan ke luar negeri dibayarin sama bule. Aku galau pada saat itu.

Tawaran itu terus menghantui pikiran aku sepanjang waktu. Dan dengan memberanikan diri dan siap ambil semua resiko aku pun memutuskan untuk ikut jalan-jalan dengan Agung dan Linda. Tapi aku berencana untuk gak sepenuhnya dibayarin sama Linda, perginya sama mereka tapi pulangnya sendiri via jalur darat dari Malaysia.

Uang tabungan yang udah aku sisihkan dengan susah payah aku relakan untuk beli tiket pulang dan bekal disana nantinya. Aku kira solo travelling itu gampang seperti kita lihat di film-film Hollywood, tapi ternyata gak, kawan. Tantangannya tinggi. Misalnya aja perampokan, sulit berinteraksi dengan bahasa lain, nyasar di daerah tertentu, dan hal-hal buruk lain yang mungkin aja terjadi.

Akhir cerita, akupun menerima tawaran Linda untuk sepenuhnya jalan-jalan dengan Agung. dan sejarah baru pun akan terukir.

Mau tau gimana cerita aku di Thailand? Tunggu di postingan selanjutnya ya. Thanks.

After visiting Budha Zhu Chi then Deah Lamgeulumpang and then Turkish Resident in Lampuuk and finally this is the last place to visit in Resident of Jackie Chan, have a cup of coffee for a while. We got many data about the recovery of the victim of Tsunami in Banda Aceh and Aceh Besar. This is the first time we serve our guest. – with Reza and Lisa at Friendship village indonesia-china,bandaaceh

View on Path