17 Ramadhan 1438H

Syahdu nya lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suasana ramai di pasar menjelang berbuka puasa. Adzan sholat 5 waktu yang selalu berkumandang. Membuat jiwa ini tenang dan tentram di bulan suci Ramadhan. Tapi itu semua hanyalah bayang semu. Semua kebahagiaan itu tak bisa lagi ku rasakan karena sekarang aku jauh. Jauh dari peradaban Islam dimana aku dididik dan dibesarkan. 

Bukannya menyesali dengan keadaan ku sekarang ini. Hanya saja aku rindu. Rindu dengan ibunda tercinta. Aku masih harus berjuang. Perjalanan masih panjang. Doakan aku, ibu. Segala ridho mu aku inginkan di sepanjang jalan ku. Keluh kesah anak bontot mu yang sedang menuntut ilmu di negeri China. Ramadhan 17, berbuka puasa sendirian di kesepian malam. Allahu Akbar..

Iklan

Mau Negara Maju? Majukan Dulu Pola Pikir Kita!

Menerobos lampu merah, berjalan melawan arus jalan, dan menggunakan handphone pada saat berkendara, hal-hal inilah yang selalu menghiasi situasi lalu lintas kota Banda Aceh. Kurangnya kesadaran masyarakat akan keselamatan dan kenyamanan berlalu lintas sepertinya sudah tidak dihiraukan lagi. Seakan memiliki nyawa cadangan yang bisa mereka gunakan apabila terjadi kecelakaan. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Pasal 279: “Setiap orang yang mengemudikan kendaraan bermotor di jalan yang dipasangi perlengkapan yang dapat mengganggu keselamatan berlalu lintas sebagaimana dimaksud dalam pasal 58 dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 (dua) bulan atau denda paling banyak Rp. 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah).”

IMG20140810135418

Pengendara sepeda motor tidak memakai helm

Dengan undang-undang yang sudah sah pun masyarakat masih tidak menghiraukan sangsi yang akan mereka dapatkan apabila mereka melanggar lalu lintas. Entah karena hukum di negara ini masih tidak berjalan dengan baik atau memang warga negaranya yang memang tidak mau tahu dengan segala aturan yang telah ditetapkan.

“Dulu saya pernah mengalami kecelakaan lalu lintas pada tahun 2007. Saya mengalami lecet-lecet dan abang saya mengalami patah tulang bahu. Orang itu menabrak saya karena tiba-tiba memotong jalan tanpa memberi lampu sen,” ujar Syahreza 22 tahun. Ini merupakan salah satu dari sekian banyak korban kecelakaan lalu lintas akibat kelalaian pengemudi lain.

Kecelakaan lalu lintas kerap terjadi karena kelalaian pengendara dan kurangnya informasi tentang tata cara berkendara yang baik dan benar dan juga memahami makna dari rambu-rambu lalu lintas. Dan seakan tidak mau belajar dari pengalaman, hal yang sama pun terus saja terulang kembali.

IMG20140808150219

Simpang Surabaya Banda Aceh

Sekarang banyak anak-anak yang belum cukup umur dan belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) berkeliaran di jalan raya mengendarai sepeda motor dengan ugal-ugalan yang sangat membahayakan nyawa orang lain. Pasal 281: “Setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 77 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp.1.000.000,00 (satu juta rupiah).” Kurangnya kesadaran orang tua untuk menerapkan aturan kepada anaknya sudah mulai hilang. Di era tahun 1990-an dulu dengan serunya kita melihat anak-anak sekolahan dari SD-SMA mengayuh sepeda mereka menuju ke sekolah bersama teman-teman. Tapi sekarang, bahkan anak-anak SMP sudah mengendarai sepeda motor dengan alasan “gak gaul kalau gak naik motor”.

Setiap orang selalu menuntut negara ini untuk bisa maju, lebih baik dari sebelumnya. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi apabila pemikiran masyarakatnya saja belum maju? Mari kita mulai perubahan dari hal-hal kecil seperti mentaati aturan rambu-rambu lalu lintas. Merdekanya sebuah negara, majunya sebuah negara bukan dilihat dari bagusnya aparatur dan pejabat negara tersebut, tapi dilihat dari warga negaranya. Jadi, mari kita mulai sebuah hal positif dari diri sendiri. (JA)